Rabu, 14 April 2010

UJI STABILITAS EMULSI BODY LOTION MENGGUNAKAN CETEARYL ALCOHOL/CETEARETH 20 SEBAGAI SELF EMULSIFIER

ABSTRAK
Telah dilakukan uji stabilitas sediaan emulsi dengan menggunakan self emulsifier cetearyl alcohol/ceteareth-20 dengan konsentrasi (2%, 3%, 4%, 5%) dalam formula body lotion dengan fase dalam campuran minyak (Virgin coconut oil, mineral oil, dan cethyl alcohol) sebesar 5% dan sisanya berupa air dan glycerin sebagai fase luar. Uji stabilitas emulsi dilakukan setiap minggu selama dua bulan dalam temperatur ruang (27-28 oC), meliputi pH, viskositas, berat jenis, kadar air, dan penampakan fisik, serta pengujian dipercepat dengan sentrifugasi 3500 rpm dan penyimpanan pada suhu 4oC dan 40oC. Hasil pengujian pada suhu ruang menunjukkan penurunan pH untuk semua konsentrasi dari kisaran pH 5,24-5,41 menjadi 3,24-3,78. Viskositas sediaan terlihat stabil pada konsentrasi emulsifier 5% sebesar 23 dpas, sedangkan pada konsentrasi yang lain mengalami penurunan berturut-turut dari konsentrasi emulsifier terendah adalah 7 dpas menjadi 6,4 dpas, 12 dpas menjadi 9,6 dpas, dan 16 dpas menjadi 11 dpas pada konsentrasi 4%. Penurunan berat jenis sedian terjadi mengikuti penurunan kadar air yaitu dari berat jenis awal 0,9829-0,9981 menjadi 0,9023-0,9921 dimana kadar air turun dari kadar 93.35-95.87% menjadi 92.52-94.68%. Pengujian stabilitas pada suhu 4oC dan 40oC pada akhir pengamatan menunjukkan penurun pH, berat jenis, dan kadar air, serta viskositas untuk suhu 40oC namun mengalami kenaikan viskositas untuk penyimpanan suhu 4oC. Hasil sentrifugasi pada kecepatan 3500 rpm menunjukkan emulsi stabil pada konsentrasi emulsifier 4% dan 5%, sedangkan pada konsentrasi emulsifier 2% terjadi pemisahan air pada lapisan bawah sebesar 2.5% dan 5% pada konsentrasi emulsifier 3%
1. PENDAHULUAN
Body lotion merupakan salah satu bentuk sediaan emulsi yang termasuk dalam kosmetik pelembab. Secara umum dipakai untuk melembabkan, melembutkan, dan menghaluskan kulit dengan menggunakan emolien, humektan, dan zat pembawa. (Wasitaatmadja, S.M., 1997)
Emulsi menurut Lachman adalah suatu sistem yang tidak stabil secara termodinamik, yang mengandung paling sedikit dua fase cair yang tidak bercampur, dimana satu diantaranya didispersikan sebagai bola-bola dalam fase cair lain. Sistem dibuat stabil dengan adanya zat pengemulsi. Sifat zat pengemulsi, dikenal dengan karakteristik keseimbangan hidrofil-lipofil (HLB), yakni sifat polar-nonpolar dari pengemulsi. Sifat ini akan menentukan tipe emulsi yang dihasilkan apakah akan dihasilkan emulsi minyak dalam air (m/a) ataukah air dalam
minyak (a/m). Zat pengemulsi yang digunakan dapat tunggal, campuran, atau kombinasi dengan zat tambahan lain. (Martin, 1993)
Pada umunya sediaan kosmetik dibuat dalam bentuk emulsi m/a karena alasan harga yang lebih murah, lebih mudah dibuat, lebih enak dipakai karena tidak begitu lengket, dan lebih cepat menyebar ke permukaan kulit dan lebih dingin. Beberapa emulsifier yang digunakan dalam emulsi m/a antara lain natrium lauril sulfat, trietanolamin stearat, self emulsifying glyceryl monostearate dan lain sebagainya. (Wasitaatmadja, S.M., 1997).
Cetearyl Alcohol and Ceteareth-20 (nama dagang crodex N) merupakan emulsifier nonionik dan self-bodying emulsifying wax. Secara normal emulsifier ini tidak memerlukan penambahan wax lain untuk membentuk sistem emulsi minyak dalam air karena selain berfungsi sebagai emulsifier, bahan ini juga dapat mengentalkan sediaan. Pemilihan zat pengemulsi harus menjamin bahwa produk yang dihasilkan stabil selama masa penyimpanan. Kestabilan emulsi dicirikan dengan tidak adanya penggabungan dan pemisahan fase dalam, tidak adanya creaming dan flokulasi, tidak terjadi perubahan kimia dan fisika, serta tidak adanya inverse fase (perubahan tipe emulsi m/a menjadi a/m atau sebaliknya dan bersifat irreversible).
Stabilitas emulsi dapat dilihat setelah penyimpanan produk selama waktu simpannya (shelf-life), namun cara ini membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan siklus pengembangan produk kosmetik relatif singkat. Sehingga digunakan pengujian stabilitas dipercepat untuk memperkirakan stabilitas jangka panjang. Tes stabilitas dipercepat untuk memprediksikan seberapa jauh produk akan tahan terhadap tekanan dan temperature ekstrem. (CTFA, 2004)
Pengujian stabilitas dipercepat dilakukan dengan cara memberikan tekanan tertentu pada produk misalnya dengan agitasi, sentrifugasi, atau teknik manipulasi suhu. Sentrifugasi pada putaran 3750 rpm dalam tabung sentrifugasi setinggi 10 cm selama 5 jam dapat dikatakan ekivalen dengan pengaruh gravitasi selama + 1 tahun. Pengujian temperatur dilakukan pada suhu rendah (freeze-thaw) + 4oC selama satu bulan dan suhu tinggi (45-50 oC) selama 60-90 hari. (Lachman et.al, 1994).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Cetearyl Alcohol and Ceteareth-20 sebagai self emulsifier dalam body lotion yang mengandung campuran minyak 5% dan mengetahui stabilitasnya selama masa penyimpanan.
2. METODE PENELITIAN
2.1. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah virgin coconut oil, mineral oil, cethyl alcohol, glycerine, Cetearyl Alcohol and Ceteareth-20, dan aquadest. Sedangkan peralatan yang digunakan adalah hot plate cimarex, motor pengaduk, batang pengaduk berbentuk
2.2. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental menggunakan rancangan secara acak lengkap dengan faktor konsentrasi emulsifier. Data yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik dan dianalisa secara deskriptif.
Tahapan pembuatan body lotion dilakukan dengan memanaskan aquadest sampai suhu + 50oC. Campuran minyak terdiri dari 3% VCO, 1% mineral oil, 1% cethyl alcohol dilelehkan pada suhu 60-70oC bersama-sama dengan 2% glycerine dan cetearyl alcohol/ceteareth-20 sebagai self emulsifier. Konsentrasi emulsifier divariasikan, pada formula 1 (F1) = 2%, formula 2 (F2) = 3%, formula 3 (F3) = 4%, dan formula 4 (F4) = 5%. Setelah leleh sempurna aquadest ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk sampai semua aquadest tertuang.
2.3. Analisa stabilitas emulsi meliputi :
2.3.1. Evaluasi stabilitas pada suhu normal/ruang (T = 27oC) meliputi pengujian pH, viskositas, dan penampakan (bau, warna, dan fisik) dilakukan setiap minggu sampai minggu ke-8, dan pengujian berat jenis, kadar air, dan tipe emulsi dilakukan pada awal dan akhir pengamatan.
2.3.2. Evaluasi stabilitas dipercepat
• Pengujian terhadap sediaan emulsi yang disimpan pada suhu rendah (4oC) dan suhu tinggi (40 oC) dengan parameter pengujian sama seperti pengujian pada suhu ruang dimana analisa dilakukan pada akhir pengamatan.
• Pengujian dipercepat dengan sentrifugasi pada putaran 3500 rpm selama 5 jam dan dilihat derajat pemisahannya setiap jam.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Viskositas menunjukkan kekentalan produk. Pengukuran viskositas menggunakan Rion Viscotester VT-04 dengan spindle 1. Hasil pengukuran sediaan pada penyimpanan suhu ruang disajikan pada gambar berikut :
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian terhadap stabilitas emulsi body lotion dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Semakin besar konsentrasi emulsifier maka viskositas semakin meningkat dengan pH relatif sama sedangkan berat jenis dan kadar air semakin menurun.
b. Stabilitas body lotion pada suhu rendah (4oC), ruang (27oC), dan suhu tinggi (40oC) menunjukkan bahwa secara penampakan (bau, warna, dan fisik) cukup stabil, namun secara umum menunjukkan penurunan pada nilai pH, berat jenis, dan kadar air.
c. Viskositas body lotion cukup stabil pada penyimpanan suhu ruang, namun mengalami peningkatan pada penyimpanan suhu rendah (4oC) dan penurunan pada suhu tinggi (40oC).
d. Pada konsentrasi emulsifier 3% dan 4%, emulsi cukup stabil pada pengujian sentrifugasi 3500 rpm.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala B2PTTG, Enny Solichah, Fanny dan rekan-rekan Laboratorium Kimia B2PTTG LIPI atas bantuannya dalam kegiatan Litbang ini.
DAFTAR PUSTAKA
CTFA, 2004, Guidelines on Stability Testing of Cosmetic Product, Cosmetic Toiletry and Fragrance Association, Washington DC
Jufri, M., Anwar, E., dan Utami, P.M., 2006, Uji Stabilitas Sediian Mikroemulsi menggunakan Hidrolisat Pati (DE 35-40) sebagai Stabilizer, Majalah Ilmu Kefarmasian Vol. III No. 1
Lachman, L., Lieberman, H.A., Kanig, J.L., diterjemhkan oleh Siti Suyatmi, 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri II, Penerbit Universitas Indonesia, edisi ke-3, hal. 1029-1089
Martin A., Lieberman, H.A., Kanig, J.L., diterjemahkan oleh Yoshita, 1993, Farmasi Fisik : Dasar-Dasar Farmasi Fisik dalam ilmu Farmasetik, Penerbit Universitas Indonesia, edisi ke-3, hal. 1143-1164
Wasitaatmadja, S.M., 1997, Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, Penerbit Universitas Indonesia, hal.111-116


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar